Senin, 11 Februari 2013
Senin, 12 November 2012
Bukan Jodoh
Perasaan apa ini, rasanya tak ada lagi oksigen yang bisa kuhirup,
begitu sesak saat mendengar dia akan menikahi perempuan lain, teman semasa
SMA-nya. Selama ini yang aku tahu dia adalah pria yang jujur dan tanggung
jawab, tak pernah ada niat berselingkuh dibelakangku bahkan aku lah perempuan
pertama yang diperkenalkan dikeluarganya.
"Dek,
mungkin ini ending dari segala perjalanan kisah kita" bisik dia yang sedari tadi duduk disebelahku.
"Kalau
memang garisnya seperti ini, ya harus bagaimana lagi?" jawabku lesu
Kusembunyikan wajahku dan beberapa bulir air mulai menetes dari
mataku, ku mulai bergeser duduk tuk menjauhi dia.
"Sungguh
sulit Dek buat jelasin semuanya, ini bukan kemauanku" kata dia mencoba menenangkanku.
"Hmm,
sudah kepalang basah. Lakukan jika itu memang baik buatmu Bang, aku yakin Tuhan
punya rencana lain untuk kita"
"Aku gak
ada perasaan dengan dia, aku gak menyukainya, keluarganya yang melamarku" jelasnya
"Sudah
jangan diteruskan, bukannya aku egois tapi aku mohon stop untuk
menceritakannya. Aku terima dan aku yakin seiring berjalannya waktu aku pasti
bisa ikhlas terima semua ini" paparku masih
tanpa memandangnya
Ketakutan mendengarkan ceritanya ini benar-benar menguras emosi yang
bergejolak sedari tadi, aku takut aku marah, aku nangis, aku stress. Tanganku
yang sedari tadi mengepal seakan mengumpulkan energi negatif dari setiap sisi
tubuhku sekarang mulai lemah seiring semakin lancarnya air mata ini mengalir.
"Kau,
nangis?" tanya nya
Sepertinya dia memperhatikan aku, dia tahu aku rapuh, bahkan jatuh,
merasakan begitu sakitnya setelah 2th jalani semuanya, suka duka bersama, tahu
kekurangan dan kelebihan masing-masing, menjadi seseorang yang berharga di hati
dan dalam sekejab menjadi barang usang yang siap tuk dibuang.
"Aku
baik-baik saja, sebaiknya kau pulang sekarang Bang" jawabku dan menyuruhnya segera pulang dari rumah singgah-nya
disetiap hari minggu.
Suasana hening beberapa saat, Kulihat dia beranjak berdiri didepan
ku dan menatapku. Diulurkan tangannya ke arahku, perlahan kuraih tangannya dan
dia menarikku kencang sekali ke badannya membuat aku jatuh di pelukannya.
Tangannya merangkulku erat begitu erat bahkan dia tak mau melepaskannya.
"Cukup,
aku sesak tak bisa bernafas" pintaku
"Diam,
seperti inilah ikatan kita bahkan lebih Adek. Begitu erat tak akan
terlepaskan" katanya dengan nada agak tinggi
"Sudah
berbeda Bang, kita tak bisa seperti ini. Kau sudah punya orang lain" kucoba lepaskan pelukannya.
Perlahan dilepaskan pelukannya, terdiam dihadapanku, menatapku
dalam-dalam. Bisa kubaca begitu lelah hatinya dari raut mukanya. Lidahku kelu
susah sekali tuk ucapkan 1kata didepannya.
"Pulanglah,
aku bisa sendiri tuk menguatkan hatiku" kataku
"Oh" jawabnya
"Jangan
pernah benci aku ya Bang, buat terakhir kalinya aku minta kau tersenyum" pintaku
Tak kurun waktu lama bibirnya mengulas senyum dan memberi 1kecupan
tepat dikeningku. Aku tak bergerak, mematung sepertinya denyut nadiku berhenti
sesaat, aku berharap setelah kejadian ini aku menderita Amnesia kronis hingga
dengan mudah aku melupakan semua.
"Aku
pulang" pamitnya
"hati hati
ya" kata ku, sedikit senyum tersungging
dibibirku
2minggu berlalu setelah kejadian itu, kubuka situs jejaring sosialku
di deretan paling atas Beranda-ku Rio menuliskan status "Aku
disini bahagia dan ku harap kau juga #Adek idung kecil# ". Aku
bergumam "Love u Bang" tanpa sadar bibirku mengembang
membentuk sebuah senyum bahagia,
Surabaya,
22.10.2012
"Dek,
mungkin ini ending dari segala perjalanan kisah kita" bisik dia yang sedari tadi duduk disebelahku.Selasa, 02 Oktober 2012
Love u mom :*
![]() |
| Add caption |
Pyar...pyaarr...
Terdengar suara piring pecah dari arah dapur.
Ini yang kedua
kalinya kegaduhan dirumah ini dibuat oleh kedua orangtuaku. Aku menyudutkan
diri dipojok kamar, tak tahu kenapa setiap aku mendengar suara bentakan sosok
lelaki yang telah membesarkanku selama +
21th dengan uangnya itu membuat badan ini lemah, gigi ini gemeretak, dan mata
ini tak pernah bisa kupaksakan tuk tak mengeluarkan zat cair.
"Berulah
lagi" pikirku
Kuraih ponselku
dan kukirim pesan tuk Rio " (T.T) "
Aku hanya ingin
dia tahu aku butuh dia, tapi tak ada jawaban sama sekali.
Setelah tak kudengar adu mulut antara mereka kuberanikan diri tuk turun
dari kasur dan mulai melangkah. Perlahan kubuka pintu
dan mulai mencari keberadaan ibu, kulihat setiap sudut ruangan berharap wanita
yang sungguh berharga dalam hidupku berada disana.
"Bu" ku pegang pundaknya
"Ibu tak apa sayang" meyakinkanku
Beranjak duduk
disampingnya dan ku usap air mata yang masih menetes dimatanya "Aku tahu begitu sakit,
tapi perlahan kita pasti bisa bangkit ibu, tanpa dia sekalipun"
Ibu diam tak
berkata apa apa,
"Aku
sayang dan masih menghormatinya sebagai seorang pemimpin dirumah ini tapi,
acapkali dia menyakiti ibu, dengan kesenangannya itu, siapa yang sanggup? Ingat
bu, aku juga perempuan aku tahu perasaanmu"
Kulihat ibu masih
membisu
"Aku akan
berusaha tuk mencukupi kebutuhan kita, aku akan berusaha buat sekolahin Dede
dan itu tanpa dia! biarkan dia hidup dengan semua kesenangannya,
perempuan-perempuannya diluar sana, aku yakin Allah tak pernah tidur dan aku
yakin Allah menjaga dan memeluk hambanya yang sabar"
Beberapa bulir
airmata keluar dari kelopak mata ibu
"Tolong
jangan menangis lagi, aku sayang kau bu"
kupeluk erat ibu berharap pelukan ini
sedikit menenangkan hatinya
"Ibu yang
salah kenapa harus memulai pertengkaran ini, harusnya ibu tak menasehatinya, tak melarang apapun yang dia ingin lakukan"
"STOP!
Jangan pernah menyalahkan dirimu sendiri"
Aku berpikir apa
semua makhluk "laki-laki" diciptakan dengan ke-egois-an yang
tinggi sehingga tak pernah ingin terlihat salah didepan seorang "Wanita".
Semakin aku berpikir kenapa dan apa tentang semuanya, dadaku terasa sesak,
tak ingin lagi ku keluarkan airmata cuma karna kelakuan yang jauh dari kata "bermoral".
"Kalau kau
sayang ibumu ini, jangan buat keributan dengan dia nak, cukup ibu yang dia
benci. Jangan pernah ikut campur nanti dikiranya ibu yang mengajari kau melawan
orangtua"
"21th itu sudah bukan anak kecil
bukan? Aku tahu mana yang benar dan mana yang salah, aku tahu mana yang harus
aku bela dan mana yang tidak, aku tak ingin apa-apa, aku cuma ingin dia pergi
dari sini, tinggalkan kita sendiri, hidup sendiri, membiarkan dia dengan apapun
maksiat yang dia perbuat, ikhlaskan dia menikah lagi ibu" Suaraku terdengar semakin tenggelam dan parau
Ibu menatapku, aku
tertunduk menyembunyikan wajahku yang mengalami perubahan psikis.
"Ada apa
ini" Suara Dede mengagetkan kami berdua
Sontak kita berdua
menyembunyikan suasana ini dan berpura-pura tak ada apa-apa, Dede berdiri
didepan kami menatap ku dan ibu secara bergantian.
"Apa
liat-liat, duduk sini" kukeraskan nada
bicaraku berharap suara parauku tersamarkan.
Dede mengambil
posisi duduk diantara kami berdua.
"Belajar
yang rajin ya Nak, biar besok bisa bantu dan gak bodoh seperti ibumu ini" kata ibu
"Lho" Dede bingung
"Sudah
dengerin saja kalo ada orang tua bicara"
sahutku
"iya
ibu"
"Dengar,
kau harus bisa jadi orang yang berguna bisa bantu orangtuamu dan orang
disekitarmu, jaga harga dirimu sebagai perempuan, syukuri apa yang sudah kamu
miliki dan manfaatkan semua itu" nasehatku
"Tak
pernah luput doa dari mulut ini, kebahagian dari semua anak-anaknya"
"Aku
sayang ibu" kupeluk ibu
"Aku
juga" Dede pun mengikutiku memeluk ibu
Kupejamkan mata
sejenak tuk berdoa "Ya Robb, tampar kami dengan sangat keras jikalau
kami menyalahi aturanmu, peluk kami ya Robb agar hati kami slalu tenang, jaga
kami agar slalu seperti ini saling menyayangi tanpa ada rasa kurang, bimbing
kami dengan kasih sayangmu dan mohon beri kami beribu sabar menghadapi semua
cobaan yang kau berikan, Amiin"
Kuusapkan
keduatanganku kearah muka tanda selesai doaku, langsung kupeluk ibu dan Dede
dengan sangat erat, pelukan ini bentuk kekuatan hati kami tuk menghadapi hidup.
To be Continue
Surabaya, 02 Oktober 2012
Selasa, 21 Agustus 2012
Tampar aku Tuhan
Tuhan, Tampar aku sekeras mungkin supaya aku tahu kenyataan ini tak seindah imajinasikuTuhan,Tampar aku sekeras mungkin supaya aku tahu siapa dia sebenarnyaLelah sudah,sejauh kaki ini melangkah menyusuri jalan mencoba bertahan bahkan melewati semua rintangan tapi gerbang keindahan itu masih belum tampak jugaRasa itu,seiring temaramnya cahaya rasa itupun melebur dan perlahan pergi tapi, sejauh ini masih ada setitik cahaya yang masih muncul tuk bangkitkan semangatkuTuhan,Tampar aku dengan sangat keras supaya aku lebih bisa bangkit, terus berlari mengejar asa dan cita cita digerbang keindahan itu. Jauhkan rasa takut, bimbang dariku.Yakinkan hati ini Tuhan, tetap memilih diaJaga hati ini Tuhan agar slalu ada namanyaKuatkan hati ini Tuhan supaya tetap mampu melangkah, melewati semuanyaIkhlaskan hati ini Tuhan agar bisa menerima apapun takdir yang Kau berikan
Surabaya, 22 Agustus 2012
Kamis, 02 Agustus 2012
Dilema
Beri keyakinan baru Tuhan untuk menghadapi semua ini, satu per satu orang disekitarku mulai menjauh, bahkan dia. Aku tahu dan sadar aku ini lemah tapi biarkan aku berdiri dan mencoba jalani semua ini. Aku ingin buktikan kalau aku kuat Tuhan. aku bisa menghadapi cobaan dariMu.
Kalau memang akhirnya dia tak sayang lagi, aku akan mencoba tuk ikhlas, tapi bukan berarti aku tak mengharapkannya Tuhan. Disaat hubungan kita baik baik saja seseorang dimasa lalu kembali dan membuka ulang kenangan kenangan indah bersamanya. Keraguan mulai meracuni hati dan pikiranku, jujur aku tak sanggup jika melepas keduanya.Mereka pria yang benar benar aku sayang. Mengajarkanku kebahagian dan kesedihan.
Aku malu jika terus menangis Tuhan, dulu aku tak pernah meneteskan air mata sedikitpun, kenapa sekarang sering sekali air ini mengalir melewati tulang pipiku?
Beribu pertanyaan aku lontarkan di diriku sendiri, menerka nerka Apakah si A ato si B yang benar benar suka dan serius jalani ini semua dengan aku.?
Semakin aku mencari jawaban justru aku semakin jauh dari mereka Tuhan. Please beri hamba petunjukmu. Mereka baik, bahkan terlalu baik buat aku Tuhan.
Apa salah hamba menangisi ini semua Tuhan???hamba benar benar rapuh, tak ada 1pun yang menguatkan hamba sekarang. Hanya Kau yang hamba punya sekarang.
Apa hamba salah jika menjalani apa adanya saja, entah mana yang jodoh hamba. Hamba tak mau memaksa karena jodoh memang sudah ada di tanganMu Tuhan.
Ikhlas ya Ikhlas mungkin itu kata yang tepat untuk menjali tiap langkah di jalanmu, Kau tak memberi apa yang hamba minta tapi Kau memberi apa yang hamba butuhkan.
Ikhlas ya Ikhlas mungkin itu kata yang tepat untuk menjali tiap langkah di jalanmu, Kau tak memberi apa yang hamba minta tapi Kau memberi apa yang hamba butuhkan.
Thank's Allah
Surabaya, 02.08.2012
Sabtu, 07 Juli 2012
First Time
Mungkin ini awal dari sebuah hubungan serius "Insya allah" aku dan si Dia. Awal diajak kerumah kakaknya, ehm meskipun bukan bertemu calon mertua tapi cukup buat dag dig dug juga. Seneng tapi rasa ragu tetep menyelimutiku, apa yakin aku ini satu satunya di hidupnya??? aneh kenapa aku gak pernah punya percaya 100% buat dia ya???
Ya Robb tunjukkan yang terbaik buat kami, hubungan kami, lancarkan semua dan kokohkan cinta kami. Amiin....
Rasa bertemu mba-nya lebih nervous dibanding interview ngelamar kerja. ditanya aneh-aneh ehmm semoga ajah mereka suka akan kehadiranku dan semoga mereka merestui hubungan kami. mulai dari nama, kerja, sodara, alamat rumah dll....
Ehmm semakin panjang hubungan ini semakin terasa rumit, awalnya orangtuaku suka sekarang koq jadi agak ilfeel, aku takut... aku takut mereka gak merestui, aku terlalu cinta dia...
Dia bisa buat aku menjadi dewasa, manja, lebih menikmati hidup. terlalu sayang dia, masih tak rela tuk melepaskannya...
Love u :* Abi
Surabaya, 07 Juli 2012
First Time :*
Jumat, 29 Juni 2012
Langganan:
Postingan (Atom)




