 |
| Add caption |
Pyar...pyaarr...
Terdengar suara piring pecah dari arah dapur.
Ini yang kedua
kalinya kegaduhan dirumah ini dibuat oleh kedua orangtuaku. Aku menyudutkan
diri dipojok kamar, tak tahu kenapa setiap aku mendengar suara bentakan sosok
lelaki yang telah membesarkanku selama +
21th dengan uangnya itu membuat badan ini lemah, gigi ini gemeretak, dan mata
ini tak pernah bisa kupaksakan tuk tak mengeluarkan zat cair.
"Berulah
lagi" pikirku
Kuraih ponselku
dan kukirim pesan tuk Rio " (T.T) "
Aku hanya ingin
dia tahu aku butuh dia, tapi tak ada jawaban sama sekali.
Setelah tak kudengar adu mulut antara mereka kuberanikan diri tuk turun
dari kasur dan mulai melangkah. Perlahan kubuka pintu
dan mulai mencari keberadaan ibu, kulihat setiap sudut ruangan berharap wanita
yang sungguh berharga dalam hidupku berada disana.
"Bu" ku pegang pundaknya
"Ibu tak apa sayang" meyakinkanku
Beranjak duduk
disampingnya dan ku usap air mata yang masih menetes dimatanya "Aku tahu begitu sakit,
tapi perlahan kita pasti bisa bangkit ibu, tanpa dia sekalipun"
Ibu diam tak
berkata apa apa,
"Aku
sayang dan masih menghormatinya sebagai seorang pemimpin dirumah ini tapi,
acapkali dia menyakiti ibu, dengan kesenangannya itu, siapa yang sanggup? Ingat
bu, aku juga perempuan aku tahu perasaanmu"
Kulihat ibu masih
membisu
"Aku akan
berusaha tuk mencukupi kebutuhan kita, aku akan berusaha buat sekolahin Dede
dan itu tanpa dia! biarkan dia hidup dengan semua kesenangannya,
perempuan-perempuannya diluar sana, aku yakin Allah tak pernah tidur dan aku
yakin Allah menjaga dan memeluk hambanya yang sabar"
Beberapa bulir
airmata keluar dari kelopak mata ibu
"Tolong
jangan menangis lagi, aku sayang kau bu"
kupeluk erat ibu berharap pelukan ini
sedikit menenangkan hatinya
"Ibu yang
salah kenapa harus memulai pertengkaran ini, harusnya ibu tak menasehatinya, tak melarang apapun yang dia ingin lakukan"
"STOP!
Jangan pernah menyalahkan dirimu sendiri"
Aku berpikir apa
semua makhluk "laki-laki" diciptakan dengan ke-egois-an yang
tinggi sehingga tak pernah ingin terlihat salah didepan seorang "Wanita".
Semakin aku berpikir kenapa dan apa tentang semuanya, dadaku terasa sesak,
tak ingin lagi ku keluarkan airmata cuma karna kelakuan yang jauh dari kata "bermoral".
"Kalau kau
sayang ibumu ini, jangan buat keributan dengan dia nak, cukup ibu yang dia
benci. Jangan pernah ikut campur nanti dikiranya ibu yang mengajari kau melawan
orangtua"
"21th itu sudah bukan anak kecil
bukan? Aku tahu mana yang benar dan mana yang salah, aku tahu mana yang harus
aku bela dan mana yang tidak, aku tak ingin apa-apa, aku cuma ingin dia pergi
dari sini, tinggalkan kita sendiri, hidup sendiri, membiarkan dia dengan apapun
maksiat yang dia perbuat, ikhlaskan dia menikah lagi ibu" Suaraku terdengar semakin tenggelam dan parau
Ibu menatapku, aku
tertunduk menyembunyikan wajahku yang mengalami perubahan psikis.
"Ada apa
ini" Suara Dede mengagetkan kami berdua
Sontak kita berdua
menyembunyikan suasana ini dan berpura-pura tak ada apa-apa, Dede berdiri
didepan kami menatap ku dan ibu secara bergantian.
"Apa
liat-liat, duduk sini" kukeraskan nada
bicaraku berharap suara parauku tersamarkan.
Dede mengambil
posisi duduk diantara kami berdua.
"Belajar
yang rajin ya Nak, biar besok bisa bantu dan gak bodoh seperti ibumu ini" kata ibu
"Lho" Dede bingung
"Sudah
dengerin saja kalo ada orang tua bicara"
sahutku
"iya
ibu"
"Dengar,
kau harus bisa jadi orang yang berguna bisa bantu orangtuamu dan orang
disekitarmu, jaga harga dirimu sebagai perempuan, syukuri apa yang sudah kamu
miliki dan manfaatkan semua itu" nasehatku
"Tak
pernah luput doa dari mulut ini, kebahagian dari semua anak-anaknya"
"Aku
sayang ibu" kupeluk ibu
"Aku
juga" Dede pun mengikutiku memeluk ibu
Kupejamkan mata
sejenak tuk berdoa "Ya Robb, tampar kami dengan sangat keras jikalau
kami menyalahi aturanmu, peluk kami ya Robb agar hati kami slalu tenang, jaga
kami agar slalu seperti ini saling menyayangi tanpa ada rasa kurang, bimbing
kami dengan kasih sayangmu dan mohon beri kami beribu sabar menghadapi semua
cobaan yang kau berikan, Amiin"
Kuusapkan
keduatanganku kearah muka tanda selesai doaku, langsung kupeluk ibu dan Dede
dengan sangat erat, pelukan ini bentuk kekuatan hati kami tuk menghadapi hidup.
To be Continue
Surabaya, 02 Oktober 2012