Perasaan apa ini, rasanya tak ada lagi oksigen yang bisa kuhirup,
begitu sesak saat mendengar dia akan menikahi perempuan lain, teman semasa
SMA-nya. Selama ini yang aku tahu dia adalah pria yang jujur dan tanggung
jawab, tak pernah ada niat berselingkuh dibelakangku bahkan aku lah perempuan
pertama yang diperkenalkan dikeluarganya.
"Dek,
mungkin ini ending dari segala perjalanan kisah kita" bisik dia yang sedari tadi duduk disebelahku.
"Kalau
memang garisnya seperti ini, ya harus bagaimana lagi?" jawabku lesu
Kusembunyikan wajahku dan beberapa bulir air mulai menetes dari
mataku, ku mulai bergeser duduk tuk menjauhi dia.
"Sungguh
sulit Dek buat jelasin semuanya, ini bukan kemauanku" kata dia mencoba menenangkanku.
"Hmm,
sudah kepalang basah. Lakukan jika itu memang baik buatmu Bang, aku yakin Tuhan
punya rencana lain untuk kita"
"Aku gak
ada perasaan dengan dia, aku gak menyukainya, keluarganya yang melamarku" jelasnya
"Sudah
jangan diteruskan, bukannya aku egois tapi aku mohon stop untuk
menceritakannya. Aku terima dan aku yakin seiring berjalannya waktu aku pasti
bisa ikhlas terima semua ini" paparku masih
tanpa memandangnya
Ketakutan mendengarkan ceritanya ini benar-benar menguras emosi yang
bergejolak sedari tadi, aku takut aku marah, aku nangis, aku stress. Tanganku
yang sedari tadi mengepal seakan mengumpulkan energi negatif dari setiap sisi
tubuhku sekarang mulai lemah seiring semakin lancarnya air mata ini mengalir.
"Kau,
nangis?" tanya nya
Sepertinya dia memperhatikan aku, dia tahu aku rapuh, bahkan jatuh,
merasakan begitu sakitnya setelah 2th jalani semuanya, suka duka bersama, tahu
kekurangan dan kelebihan masing-masing, menjadi seseorang yang berharga di hati
dan dalam sekejab menjadi barang usang yang siap tuk dibuang.
"Aku
baik-baik saja, sebaiknya kau pulang sekarang Bang" jawabku dan menyuruhnya segera pulang dari rumah singgah-nya
disetiap hari minggu.
Suasana hening beberapa saat, Kulihat dia beranjak berdiri didepan
ku dan menatapku. Diulurkan tangannya ke arahku, perlahan kuraih tangannya dan
dia menarikku kencang sekali ke badannya membuat aku jatuh di pelukannya.
Tangannya merangkulku erat begitu erat bahkan dia tak mau melepaskannya.
"Cukup,
aku sesak tak bisa bernafas" pintaku
"Diam,
seperti inilah ikatan kita bahkan lebih Adek. Begitu erat tak akan
terlepaskan" katanya dengan nada agak tinggi
"Sudah
berbeda Bang, kita tak bisa seperti ini. Kau sudah punya orang lain" kucoba lepaskan pelukannya.
Perlahan dilepaskan pelukannya, terdiam dihadapanku, menatapku
dalam-dalam. Bisa kubaca begitu lelah hatinya dari raut mukanya. Lidahku kelu
susah sekali tuk ucapkan 1kata didepannya.
"Pulanglah,
aku bisa sendiri tuk menguatkan hatiku" kataku
"Oh" jawabnya
"Jangan
pernah benci aku ya Bang, buat terakhir kalinya aku minta kau tersenyum" pintaku
Tak kurun waktu lama bibirnya mengulas senyum dan memberi 1kecupan
tepat dikeningku. Aku tak bergerak, mematung sepertinya denyut nadiku berhenti
sesaat, aku berharap setelah kejadian ini aku menderita Amnesia kronis hingga
dengan mudah aku melupakan semua.
"Aku
pulang" pamitnya
"hati hati
ya" kata ku, sedikit senyum tersungging
dibibirku
2minggu berlalu setelah kejadian itu, kubuka situs jejaring sosialku
di deretan paling atas Beranda-ku Rio menuliskan status "Aku
disini bahagia dan ku harap kau juga #Adek idung kecil# ". Aku
bergumam "Love u Bang" tanpa sadar bibirku mengembang
membentuk sebuah senyum bahagia,
Surabaya,
22.10.2012
"Dek,
mungkin ini ending dari segala perjalanan kisah kita" bisik dia yang sedari tadi duduk disebelahku.