Selasa, 02 Oktober 2012

Love u mom :*

Add caption

Pyar...pyaarr... Terdengar suara piring pecah dari arah dapur.
Ini yang kedua kalinya kegaduhan dirumah ini dibuat oleh kedua orangtuaku. Aku menyudutkan diri dipojok kamar, tak tahu kenapa setiap aku mendengar suara bentakan sosok lelaki yang telah membesarkanku selama  + 21th dengan uangnya itu membuat badan ini lemah, gigi ini gemeretak, dan mata ini tak pernah bisa kupaksakan tuk tak mengeluarkan zat cair.
"Berulah lagi" pikirku
Kuraih ponselku dan kukirim pesan tuk Rio " (T.T) "
Aku hanya ingin dia tahu aku butuh dia, tapi tak ada jawaban sama sekali.
Setelah tak kudengar adu mulut antara mereka kuberanikan diri tuk turun dari kasur dan mulai melangkah. Perlahan kubuka pintu dan mulai mencari keberadaan ibu, kulihat setiap sudut ruangan berharap wanita yang sungguh berharga dalam hidupku berada disana.
"Bu"  ku pegang pundaknya
"Ibu tak apa sayang" meyakinkanku
Beranjak duduk disampingnya dan ku usap air mata yang masih menetes dimatanya "Aku tahu begitu sakit, tapi perlahan kita pasti bisa bangkit ibu, tanpa dia sekalipun"
Ibu diam tak berkata apa apa,
"Aku sayang dan masih menghormatinya sebagai seorang pemimpin dirumah ini tapi, acapkali dia menyakiti ibu, dengan kesenangannya itu, siapa yang sanggup? Ingat bu, aku juga perempuan aku tahu perasaanmu"
Kulihat ibu masih membisu
"Aku akan berusaha tuk mencukupi kebutuhan kita, aku akan berusaha buat sekolahin Dede dan itu tanpa dia! biarkan dia hidup dengan semua kesenangannya, perempuan-perempuannya diluar sana, aku yakin Allah tak pernah tidur dan aku yakin Allah menjaga dan memeluk hambanya yang sabar"
Beberapa bulir airmata keluar dari kelopak mata ibu
"Tolong jangan menangis lagi, aku sayang kau bu"  kupeluk erat ibu berharap pelukan ini sedikit menenangkan hatinya
"Ibu yang salah kenapa harus memulai pertengkaran ini, harusnya ibu tak  menasehatinya, tak melarang apapun yang dia ingin lakukan"  
"STOP! Jangan pernah menyalahkan dirimu sendiri"
Aku berpikir apa semua makhluk "laki-laki" diciptakan dengan ke-egois-an yang tinggi sehingga tak pernah ingin terlihat salah didepan seorang "Wanita". Semakin aku berpikir kenapa dan apa tentang semuanya, dadaku terasa sesak, tak ingin lagi ku keluarkan airmata cuma karna kelakuan yang jauh dari kata "bermoral".
"Kalau kau sayang ibumu ini, jangan buat keributan dengan dia nak, cukup ibu yang dia benci. Jangan pernah ikut campur nanti dikiranya ibu yang mengajari kau melawan orangtua"
"21th itu sudah bukan anak kecil bukan? Aku tahu mana yang benar dan mana yang salah, aku tahu mana yang harus aku bela dan mana yang tidak, aku tak ingin apa-apa, aku cuma ingin dia pergi dari sini, tinggalkan kita sendiri, hidup sendiri, membiarkan dia dengan apapun maksiat yang dia perbuat, ikhlaskan dia menikah lagi ibu" Suaraku terdengar semakin tenggelam dan parau
Ibu menatapku, aku tertunduk menyembunyikan wajahku yang mengalami perubahan psikis.
"Ada apa ini" Suara Dede mengagetkan kami berdua
Sontak kita berdua menyembunyikan suasana ini dan berpura-pura tak ada apa-apa, Dede berdiri didepan kami menatap ku dan ibu secara bergantian.
"Apa liat-liat, duduk sini" kukeraskan nada bicaraku berharap suara parauku tersamarkan.
Dede mengambil posisi duduk diantara kami berdua.
"Belajar yang rajin ya Nak, biar besok bisa bantu dan gak bodoh seperti ibumu ini" kata ibu
"Lho" Dede bingung
"Sudah dengerin saja kalo ada orang tua bicara" sahutku
"iya ibu"
"Dengar, kau harus bisa jadi orang yang berguna bisa bantu orangtuamu dan orang disekitarmu, jaga harga dirimu sebagai perempuan, syukuri apa yang sudah kamu miliki dan manfaatkan semua itu" nasehatku
"Tak pernah luput doa dari mulut ini, kebahagian dari semua anak-anaknya"
"Aku sayang ibu" kupeluk ibu
"Aku juga" Dede pun mengikutiku memeluk ibu
Kupejamkan mata sejenak tuk berdoa "Ya Robb, tampar kami dengan sangat keras jikalau kami menyalahi aturanmu, peluk kami ya Robb agar hati kami slalu tenang, jaga kami agar slalu seperti ini saling menyayangi tanpa ada rasa kurang, bimbing kami dengan kasih sayangmu dan mohon beri kami beribu sabar menghadapi semua cobaan yang kau berikan, Amiin"
Kuusapkan keduatanganku kearah muka tanda selesai doaku, langsung kupeluk ibu dan Dede dengan sangat erat, pelukan ini bentuk kekuatan hati kami tuk menghadapi hidup.

To be Continue
 Surabaya, 02 Oktober 2012

Tidak ada komentar:

Posting Komentar